Ketua STID Mohammad Natsir Hadiri Regional Conference Tentang Budaya Damai di Malaysia
STIDNATSIR.AC.ID – Selama dua hari, Selasa-Rabu 11-12 Februari 2020, Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, mendampingi Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah, Dr. Mohammad Noer, mengikuti Persidangan Serantau mengenai Hidup Bersama dalam Budaya Damai (Regional Conference Peaceful Coexistence) 2020. Acara yang bertempat di Grand Bluewave Hotel, Shah Alam Selangor Malaysia ini berlangsung atas kerjasama Insititut Darul Ehsan (IDE), Universitas Selangor (Unisel), The Sasakawa Peace Foundation (SPK) dan The Habibi Center (THC). Acara diikuti oleh 300 orang peserta dari Negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.
Sebagaimana tajuk dari konfrensi ini, tema utama yang dibahas adalah bagaimana memformulasikan langkah-langkah dalam berbagai bidang untuk mewujudkan dan mempertahankan budaya damai dalam kehidupan yang beragam. Sebab, sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa di kawasan Asia Tenggara ini kehidupan sangat beragam. Baik dari sisi keragaman agama, suku, budaya, bahasa dan adat istiadat. Sehingga diperlukan budaya damai agar kehidupan yang beragam itu dapat terus dijalankan dalam kedamaian.
Pemateri yang dihadirkan dalam konfrensi ini berasal dari seluruh negara peserta. Dari Indonesia hadir Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar mewakili akademisi, ada juga Dadang Trisasongko dari Transparency International Indonesia, Wahyu Dyatmika dari Tempo.Co dan Imam Rulyawan dari Dompet Dhuafa. Dari Singapura ada Hafiz Othman (Emaan Catalyst Community), dari Thailand ada Prof. Dr. Numan Hayimasae (Prince of Songkla University), dari Filipina ada Sultan Marawi, Abdul Hamidullah T. Atar. Sementara dari Malaysia, pembicara utama yang dihadirkan adalah Prof. Dato’ Dr. Siddiq Fadzil (IDE) dan Dato’ Seri Anwar Ibrahim.
Selasa, 25 Februari 2020
Jumat, 07 Februari 2020
INTEGRITAS ORANG BERIMAN
Hari-hari
ini banyak ahli mengatakan bahwa salah satu penyakit yang sedang mendera bangsa
kita, baik pejabat maupun masyarakatnya, adalah hilangnya atau setidaknya
berkurangnya integritas. Ada dua syarat minimal seseorang dapat dikatakan
memiliki integritas, yaitu memiliki kejujuran dan sikap amanah. Dua karakter
itulah yang kini mulai dirasakan hilang dari tengah-tengah kehidupan bangsa
kita. Akibatnya adalah, korupsi semakin merajalela, kebohongan semakin terlihat
nyata.
Bagi orang
beriman, kejujuran dan sikap amanah adalah satu keharusan. Karena itulah orang
beriman seharusnya otomatis menjadi orang yang memiliki integritas. Setidaknya ada
tiga sebab kenapa orang beriman harus memiliki kejujuran dan sikap amanah,
yaitu:
Pertama, orang
beriman meyakini bahwa salah satu sifat Allah adalah Maha Mengetahui (‘aliimun).
Sehingga ia meyakini bahwa segala yang diucapkan dan diperbuatnya pasti
diketahui oleh Allah Swt. baik ucapan dan perbuatan itu dilakukan secara dzohir
maupun batin, dilakukan ditengah keramaian ataupun dalam keadaan seorang diri. Sebagaimana
firmanNya:
هُوَ ٱلۡأَوَّلُ
وَٱلۡأٓخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin;
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hadid: 3)
Minggu, 26 Januari 2020
KONSEP PENDIDIKAN IMAM ZARKASYI
PENGANTAR
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia,
sehingga ada yang menyebut pesantren sebagai bapak pendidikan Islam Indonesia.
Pesantren juga adalah lembaga pendidikan Islam yang sangat khas Indonesia.
Sebab lembaga pendidikan yang mirip pesantren tidak ditemukan di kawasan Timur
Tengah.[1]
Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah membuktikan diri
sebagai lembaga pendidikan yang memberikan banyak sekali kontribusi untuk umat
uslam, masyarakat dan bangsa Indonesia. Dalam menghadapi penjajahan misalnya,
pesantren adalah salah satu unsur penting yang selalu mengobarkan perlawanan
dan menyiapkan para santrinya untuk melawan penjajah. Sampai-sampai Mansur
Suryanegara pernah mengatakan bahwa sulit mencari gerakan perlawanan terhadap penjajah
di Indonesia yang bukan dilakukan oleh orang pesantren.[2] Sehingga
beberapa kiyai pesantren kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional oleh
pemerintah karena kontribusinya dalam melawan penjajah dan merebut kemerdekaan.
KH. Noer Ali, KH. Abdul Halim, K.H. Hasjim Asjarie, dan K.H. Abdul Wahid Hasjim
adalah contohnya.[3]
Dari pesantren juga banyak lahir tokoh-tokoh Islam yang kemudian
menjadi tokoh nasional dan bahkan internasional. Di antaranya, H.M. Rasyidi
(alumni Pondok Jamsaren, Menteri Agama RI pertama), Mohammad Natsir (alumni
Pesantren Persis / Perdana Menteri NKRI pertama), KH. Imam Zarkasyi (alumni
Jamsaren, anggota Dewan Perancang Nasional), KH. Idham Khalid (alumni Pesantren
Gontor / wakil Perdana Menteri dan Ketua MPRS).[4]
KONSEP AKAL SEBAGAI SUMBER ILMU DALAM ISLAM (TELAAH TERHADAP PEMIKIRAN MOHAMMAD NATSIR)
Pendahuluan
Kehidupan
manusia dewasa ini diliputi oleh banyak sekali nestapa. Perkembangan ilmu dan
pencapaian tehnologi bukannya mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia,
tapi sebaliknya banyak menimbulkan kesulitan dan bencana, bahkan ancaman
kepunahan umat manusia. Ancaman itu muncul misalnya dari perlombaan
negara-negara maju dalam pengadaan puluhan ribu senjata nuklir. Menurut Capra,
sebagaimana dikutip Ahmad Tafsir, timbunan senjata nuklir itu dapat
menghancurkan dunia beberapa kali. Ancaman kepunahan juga muncul dari kerusakan
udara dan air yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia beracun yang mengotori
keduanya.[1]
Para ilmuwan
banyak yang berpendapat bahwa sebab dari semua ini karena ilmu dan tehnologi
yang dicapai itu semata hanya bersandarkan kepada akal. Alasan ini dapat
difahami, sebab hari ini semua perkembangan ilmu dan pencapaian tehnologi
berasal dari Barat. Sementara Barat hari ini (modern) adalah sebuah peradaban
yang menjadikan akal manusia sebagai satu-satunya sandaran dalam mencari ilmu
dan kebenaran. Akal dijadikan sebagai sumber utama dan pertama dalam
pengembangan ilmu dan tehnologi.
BEKAL BERLIBUR BAGI KADER DA’I
![]() |
| Mahasiswa STID Mohammad Natsir mengisi liburan dengan kegiatan Kafilah Da'wah |
Ketika datang waktu libur, maka seseorang
yang berlibur itu akan mendapatkan dua hal, pertama waktu luang dan kedua
kesehatan. Termasuk juga kader da’i yang sedang berlibur, akan mendapatkan dua
hal itu. Maka seorang kader da’i harus mengingat peringatan Nabi Saw. terkait
dua hal itu, sebagaimana sabda beliau Saw.:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ
النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang
banyak manusia tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”.
(HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Dalam hadits di atas, Nabi Saw. memberikan
peringatan bahwa banyak orang yang tertipu oleh dua kenikmatan, yaitu kesehatan
dan waktu luang. Kenapa sampai tertipu? Karena orang yang sedang mendapatkan
kesehatan dan waktu luang, dia akan cenderung menjadi malas. Dalam kemalasan
itu dia akan mencari-cari kesibukan yang cenderung negatif. Sementara di sisi
lain, dia pun akan cenderung malas untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah
Swt. Akhirnya dia akan meninggalkan ketaatan kepada Allah Swt. dan mengisi
waktunya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, bahkan perbuatan
terlarang.
Kamis, 22 November 2018
MELANJUTKAN RISALAH DENGAN DA’WAH
Ada
peristiwa menarik saat Rasulullah Saw. dan para sahabatnya melaksanakan ibadah haji,
yaitu peristwa Khutbatul Wada yang beliau sampaikan. Inilah khutbah beliau yang
terakhir di hadapan para sahabatnya dalam jumlah yang cukup banyak. Pada
khutbah di Padang Arafah itu, beliau menjelaskan pokok-pokok ajaran agama
Islam; wasiat untuk selalu berpegang teguh kepada al-quran dan as-sunnah, tentang
haramnya darah dan harta kaum muslimin, kewajiban menunaikan amanah, penegasan
akan keharaman riba, penegasan tentang hak dan kewajiban kaum wanita, penegasan
tentang hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh suami dan istri, wajibnya
memelihara tali ukhuwah islamiyah dan penjelasan tentang persamaan kedudukan dan
martabat seluruh manusia tanpa memandang suku, bangsa, ras dan bahasanya.
Setiap
kali beliau Saw. selesai menjelaskan satu pokok ajaran Islam tersebut, beliau
senantiasa bertanya kepada kurang lebih 100.000 orang sahabat yang hadir saat
itu,
“Allaa
Hal Ballaghtu?/ “Apakah aku sudah menyampaikannya?”, dan
para sahabat menjawab, Allahumma na’am “Ya benar, engkau sudah
sampaikan.” Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah Saw. berseru, Allahummasyhad
“Ya Allah saksikanlah bahwa aku telah
menyampaikannya.”
Kemudian,
di akhir Khutbatul Wada tersebut, beliau bertanya kembali kepada para
sahabatnya,
وَأَنْتُمْ مَسْئُولُونَ عَنِّي مَا
أَنْتُمْ قَائِلُونَ ؟
“Kamu nanti akan ditanya tentang diriku,
maka apakah yang akan kamu katakan?.”
Para
sahabat menjawab,
نَشْهَدُ إِنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ
رِسَالاَتِ رَبِّكَ ، وَنَصَحْتَ لِأُمَّتِكَ ، وَقَضَيْتَ الَّذِي عَلَيْكَ
“Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau sudah
sampaikan (Risalahmu) sudah engkau tunaikan (tugasmu) dan telah engkau
laksanakan semua dengan sungguh-sungguh.” Rasulullah Saw. kemudian berseru,
اللَّهُمَّ اشْهَدْ ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ
“Ya
Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah.”
Minggu, 26 Agustus 2018
MENYAMBUT SERUAN M NATSIR UNTUK SELAMATKAN NEGARA
Kondisi bangsa kita hari ini, mirip seperti kondisi di tahun 1954. Kepemimpinan yang otoriter, pemberangusan suara oposisi, ekonomi yang sulit, penggunaan alat Negara untuk kepentingan kelompok adalah diantara kesamaan kondisinya. Saat itu, *Mohammad Natsir* melancarkan kritiknya terhadap kondisi bangsa dalam sebuah artikel berjudul, “BELA DASAR DEMOKRASI YANG SEDANG TERANCAM”. Berikut artikel lengkapnya:
BELA DASAR DEMOKRASI YANG SEDANG TERANCAM
Oleh: M. Natsir
Seruan kepada semua Partiot! Asas-asas demokrasi telah ditinggalkan. Kekuatan oposisi hendak dilumpuhkan. Bukan rechtspolitiek tetapi machtspolitiek.
Untuk kesekian kalinya semakin jelas, bahwa pemerintah yang berkuasa sekarang ini, dengan bantuan PKI, telah meninggalkan asas-asas yang dipegang teguh oleh pemerintah yang sudah-sudah, sesuai asas-asas yang terkandung dalam Undang Undang Dasar Sementara Republik Indonesia.
Politik di kalangan kepegawaian menunjukan pula suatu tendens yang sangat merugikan negara dan mempertajam pertentangan antara partai-partai pemerintah disatu pihak dan partai-partai oposisi di lain pihak. Semboyan dalam menempatkan, mengangkat, memindahkan dan melepas pegawai-pegawai bukan lagi: “the right man in the right place” melainkan merupakan pembagian kursi semata-mata diantara orang-orang anggota partai-partai pemerintah.
BELA DASAR DEMOKRASI YANG SEDANG TERANCAM
Oleh: M. Natsir
Seruan kepada semua Partiot! Asas-asas demokrasi telah ditinggalkan. Kekuatan oposisi hendak dilumpuhkan. Bukan rechtspolitiek tetapi machtspolitiek.
Untuk kesekian kalinya semakin jelas, bahwa pemerintah yang berkuasa sekarang ini, dengan bantuan PKI, telah meninggalkan asas-asas yang dipegang teguh oleh pemerintah yang sudah-sudah, sesuai asas-asas yang terkandung dalam Undang Undang Dasar Sementara Republik Indonesia.
Politik di kalangan kepegawaian menunjukan pula suatu tendens yang sangat merugikan negara dan mempertajam pertentangan antara partai-partai pemerintah disatu pihak dan partai-partai oposisi di lain pihak. Semboyan dalam menempatkan, mengangkat, memindahkan dan melepas pegawai-pegawai bukan lagi: “the right man in the right place” melainkan merupakan pembagian kursi semata-mata diantara orang-orang anggota partai-partai pemerintah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Ketua STID Mohammad Natsir Ikuti Madani SEA Leadership Program 2025 di Malaysia
Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, mengikuti program Madani South East Asia Leadership Program (MSeaLP2025) di Kua...
-
(Oleh : Dr. Dwi Budiman Assiroji) Pendahuluan Penelitian adalah kegiatan yang terdiri atas beberapa tahapan. Jika seorang peneliti i...
-
Sejarah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia berawal dari musyawarah sejumlah ulama di masjid Munawarah Tanah Abang pada 26 Februari 1967. Has...
-
*Hari ke 1 (Kamis, 21 April 2022)* Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah (STID) Mohammad Natsir ramadhan tahun 1443 H ini kembali mengirimkan Tim E...

