Senin, 14 Maret 2022

Dewi Machdanefo; Istri Ustadz Syuhada Bahri (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah)

 


Ustadz Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, dikenal sebagai da'i yang sering keluar masuk pedalaman Indonesia untuk berdakwah. Semenjak menjadi Ketua Umum, beliau juga kerap meninggalkan tanah air guna mewakili Dewan Da'wah dalam acara-acara Internasional. Tentu aktifitas Ustadz Syuhda itu mengharuskannya sering meninggalkan keluarga. Bagaimana suka duka menjadi istri da'i seperti Ustadz Syuhada?. Berikut wawancara Suara Hidayatullah dengan Dewi Machdanefo, sang istri:

 

Suami Ibu sering meninggalkan keluarga guna melaksanakan tugas dakwah. Sebagai istri bagaimana Ibu menyikapinya?

Dari awal saya menikah dengan Bapak saya tahu Bapak seorang da'i yang sering ditugaskan untuk berdakwah ke daerah-daerah. Tentu saya sudah mempertimbangkan pasti bakal sering ditinggal. Jadi saya sudah bisa menerimanya, itulah resiko istri seorang da'i. Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah, selama saya dan Bapak saling percaya, bahwa Bapak pergi meninggalkan kami dalam rangka melaksanakan tugas dakwah, maka saya pun harus bisa menjalankan amanah menjaga anak-anak di rumah. Jadi dari awal memang sudah tahu resiko menjadi istri seorang da'i, tidak hanya resiko sering ditinggal, tapi juga resiko secara keseluruhan, sampai pahit-pahitnya, namanya sudah jodoh kita harus jalani.

 

Selama ditinggal, ada perasaan khawatir terhadap Bapak?

Kalau soal mengkhawatirkan kesehatan Bapak iya, tapi kita suka terus komunikasi sepanjang masih bisa. Bapak kan punya sakit gula, jadi kolesterolnya harus dijaga, ya saya suka mengingatkan masalah makannya. Tapi kalau kekhawatiran yang negatif InsyaAllah tidak ada. Paling saya mendoakan setiap shalat, semoga Bapak selama dalam berdakwan di daerah dilindungi Allah, dimudahkan segala urusannya.

 

Bagaimana menjaga hubungan sebagai suami istri di tengah sering ditinggal seperti itu?

(Tertawa) ya ditelepon bisa juga, atau lewat sms pake kata-kata. Kalau ada rasa kangen diungkapkan saja.

 

Bagiman cara mendidik anak di tengah sering ditinggal Bapak seperti itu?

Sebagai orang biasa namanya repot pasti ada, salah satu alternatifnya, ke – 12 anak ini tidak semuanya di rumah, anak-anka kami lulus SD dimasukan pesantren. Niat awalnya supaya mereka punya dasar agama yang kuat, tujuan lainnya agar dapat mengurangi beban di rumah, (tertawa) paling tidak yang di rumah ada 9 orang, yang 3 orang di pesantren, seperti sekarang. Paling yang agak repot yang maih kecil-kecil ini, yang SD ke bawah.

 

Anak-anak suka protes sering ditinggal Bapaknya?

Kalau yang besar sudah mengerti, saya kasih pengarahan kalau Bapak pekerjaannya tidak seperti orang lain, pekerjaan Bapak itu dakwah. Yang kecil-kecil biasa yang suka nanya, 'Bapak kok perginya lama sekali, nggak pulang-pulang.' Saya katakan bahwa Bapak tugasnya memberikan bimbingan pada saudara-saudara kita yang jauh. Biar agamanya lebih kuat. Walaupun begitu anak-anak kan berpikirnya masih polos, 'Oh Bapak cari uang ya.' (Tertawa). Saya jawab, 'Ya insya Allah lewat itu Allah akan memberi rizki juga untuk anak-anak, untuk sekolah, makannya kamu harus bisa mendoakan Bapak supaya sehat.'

 

Kabarnya dari 12 kali melahirkan tidak semua didampingi Bapak. Bagaiaman perasaannya?

Sebagai manusia ada sedikit rasa kecewanya, tapi karena sudah paham pekerjaan Bapak, ya pasrah saja, yakin semua pertolongan dari Allah. Ketika melahirkan anak terakhir juga Bapak lagi umroh, padahal lahirnya dioperasi. Tapi alhamdulillah masih bisa kontak, walaupun  tidak mendampingi secara fisik tapi lewat telepon itu bisa membantu dengan semangat. Kita tidak merasa sendiri.

 

Bagaimana dengan keluarga Ibu?

Alhamdulillah keluarga saya menerima Bapak dengan segala resikonya. Waktu saya nikah Bapak saya sudah tidak ada. Tapi waktu masih hidup Bapak saya sudah kenal dengan suami, sudah menerima.

 

Membagi waktu dengan anak 12 bagaimana?

Intinya kan kalau anak-anak waktu mau sekolah. Kalau Bapaknya disambil saja. Jalan dengan sendirinya. (tertawa)

 

Bagaimana hubungan Bapak dengan anak-anak?

Alhamdulillah setiap seminggu sekali, kalau Bapak tidak keluar kota, kita kumpul semua. Sharing sama anak-anak, anak-anak ada keluhan, jawaban orang tua bagaimana. Bapak juga menyampaikan kondisi Bapak sekarang, Bapak juga suka cerita dulu bagaimana, anak-anak biar tahu Bapak itu tidak langsung seperti sekarang. Tapi dimulai dari bawah, dengan kerja keras bisa seperti sekarang. Jadi tidak tiba-tiba. Dengan begitu anak-anak mengerti, kalau Bapak sedang tugas ke luar jangan dianggap tidak memperhatikan. Itu juga tugas dan demi untuk anak-anak juga. Bapak itu sama anak-anak, kalaupun jarang ketemu, alhamdulillah deket. Kalau dari Makkah Bapak suka bawa oleh-oleh, suatu hari bapak bawa batu warna-warni untuk tanaman.  Ternyata cokelat. Bapak  suka menggendong anak-anak, bukan hanya yang kecil, yang besar juga. Kalau ibunya jangan ditanya. (tertawa).

 

Selain sering ditinggal resiko apalagi yang selama ini Ibu rasakan?

Termasuk ya resiko ekonomi misalnya. Kalau pegawai negeri kan sudah pasti sekian, bapak juga ada dari Dewan Da'wah sekian-sekiannya, tapi jumlahnya kalau menurut akal tidak seimbang dengan keperluan kami, dengan anak 12 orang. Tapi Alhamdulillah terpenuhi juga kebutuhan kami, Alhamdulillah  makan selalu bisa walau seadanya. Untuk bayar sekolah sering juga nunggak. Gimana ada rizkinya saja. Tapi saya percaya bahwa rezeki itu Allah yang ngatur, walaupun kami diberi amanah anak banyak, dimana kalau secara akal, nggak mungkin sepertinya kami bisa menghidupi anak-anak kami. Tapi kami yakin Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah yang mengatur rezekinya. Allah kasih rizkinya dari jalan lain. Cicak saja bisa hidup, masa kita manusia tidak bisa. Kuncinya kita mensyukuri rezeki yang sudah Allah berikan, kita atur sebisa mungkin. Bapak sering bilang, barang-barang kami mereknya kasio,  dikasih orang. Boleh dibilang beli nggak pernah. Semuanya mereknya kasio. (tertawa)

 

Apa kontribusi yang anda berikan dalam tugas Bapak?

Secara ilmu saya tidak bisa, karena Bapak lebih banyak ilmunya. Dulu juga niat saya nikah dengan Bapak itu dari awal karena saya ingin dibimbing  dalam hal agama. Tapi mungkin yang utama bantu do'a, supaya Bapak diberikan kesehatan lahir batin, tahan dalam berdakwah, menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian melayani sebagai istri dan ibu dari anak-anak, itu saja.

 

Bapak sendiri bagaimana cara mendidik Ibu sebagai istri?

Saya ini sebagai ibu kadang sering emosi, kurang sabar, kadang kesel, nah itu Bapak suka mengingatkan, 'Sudah sabar', kalau sudah gitu sudah hilang aja marahnya. Jadi bisa memadamkan emosi saya.

 

Kesan anda terhadap Bapak?

Yang pasti Bapak itu suami yang paling baik sedunia (tertawa). Lebih sabar dari saya.

 

Dengan poisi Bapak sebagai ketua Dewan Da'wah, bagaimana perasaan Ibu?

Waktu pertama Bapak menyampaikan berita itu, saya rasanya bukan gembira malah takut, takut tidak bisa menjaga keluarga, kalau saya atau anak saya jelek, na'udzubillah, yang kebawa nama bapak juga. Saya agak berat. Tapi ya kalau memang Bapak diamanhi itu, ya saya hanya bisa mendoakan saja, mudah-mudahan dengan begitu saya dan anak-anak bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

 

Pesan anda untuk para istri da'i?

Yang sabar saja, artinya bisa menerima dengan ikhlas suami yang bertugas di daerah. Kita harus bisa mendoakan terus semoga Allah bisa melindungi suami kita selama menjalankan tugasnya, karena itu ibadah.

  

 

 

 

Box:

Dewi, anak ke lima dari enam bersaudara ini, lahir di Jakarta pada bulan November tahun 1963, sementara Syuhada Bahri lahir pada bulan Juni 1954. Mereka menikah pada bulan Juli 1985. kini telah dikaruniai 12 orang anak, “Hitungan saya berhentinya di sepuluh, makannya anak ke sepuluh dikasih nama Sofia Kamilah, sempurna lah sudah, eh ada lagi”, ujar Syuhada. “Makannya istri saya sehat terus, karena waktu untuk sakit sudah nggak ada lagi, habis untuk ngurus anak”, ujarnya lagi sambil diiringi tawa.

 

 

Ustadz Syuhada Bahri:

 

Saya bersyukur memiliki istri seperti istri saya, yang mau menerima saya sebagai seorang da’i apa adanya. Dari awal sebelum menikah saya sudah katakan kepada istri saya bahwa “Kamu itu istri ke dua saya, istri pertama saya adalah ummat. Karena itu jangan halangi saya kalau urusannya urusan ummat.” Karena itu istri saya tidak pernah menghalangi saya dalam dakwah, justru sangat mendukung. Dalam hal ekonomi misalnya, ketika dulu kita terpaksa tidak makan satu hari, istri saya nggak marah-marah. Tapi alhamdulillah itu hanya sekali, dan tidak pernah terulang sampai saat ini, mudah-mudahan ke depan juga.

Saya tidak harus terlalu ngajarin istri saya untuk menjadi seperti itu, karena dulu sudah cukup terbina ketika di HMI. Memang dulu saya berfikir kalau bisa istri saya harus yang tidak terlalu repot ngajarin lagi. Karena jika tidak, waktu saya nanti akan habis untuk mengajari istri. Makannya yang saya ambil yang sudah setengah matang (tertawa).

Sementara untuk menjaga hubungan saya dengan keluarga ditengah sering saya tinggal, berada dimana saja saya selalu kontak, dulu belum ada HP, saya datang kemana saja, ketika ada telepon, saya kontak. Sampai pernah ada jamaah haji, ketika saya menelepon rumah mereka mengatakan, “Wah ustadz itu berapa bayarnya?,” saya katakan, “Uang itu bisa dicari, kalau hanya karena ingin menghemat uang, kemudian komunikasi kita dengan keluarga terputus itu bisa lebih mahal harganya.”

(Dwi Budiman)

Senin, 28 Desember 2020

TAUSYIYAH UNTUK KADER DA’I DI KAMPUNG HALAMAN

                 


Kader da’i, para mahasiswa STID Mohammad Natsir, yang dirahmati Allah Ta’ala., hari-hari belakangan ini kita semua menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan, terutama terkait dengan semakin mewabahnya virus Corona di tengah-tengah masyarakat kita. Sehingga kondisi itu memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap proses perkuliahan dan proses pengabdian kita di Kampus Da’wah ini. Semoga Allah Ta’ala. memberikan kekuatan iman kepada kita dan segera mengangkat wabah ini dari tengah-tengah kita.

Dampak yang paling kita rasakan dari wabah tersebut adalah dengan dipulangkannya antum semua ke rumah masing-masing dan dialihkannya kuliah tatap muka menjadi kuliah online. Ini semua kita lakukan sebagai bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menghindari dan menahan laju penyebaran wabah virus Corona, sesuai dengan petunjuk dan arahan dari pemerintah dan Dewan Da’wah Pusat.

Kader da’i yang dirahmati Allah Ta’ala., untuk itu ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada antum semuanya, yaitu:

UJIAN ADALAH KASIH SAYANG ALLAH TA’ALA BAGI ORANG BERIMAN

 Dalam kehidupan, manusia tidak selalu mendapatkan kesenangan, manusia seringkali juga mendapatkan kesulitan. Tidak selalu mendapatkan kesehatan, seringkali juga mendapatkan kesakitan. Tidak selalu mendapatkan kekayaan, seringkali juga mendapatkan kemiskinan. Tidak selalu mendapatkan kebahagiaan, seringkali juga mendapatkan kesedihan. Itulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia di alam dunia ini.

Orang beriman, ketika memandang kedua sisi dalam kehidupan itu, maka ia harus memandangnya sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala. Maka ketika ia memandang sesuatu yang jelek dalam hidupnya, seperti kesulitan, kesakitan, kemiskinan atau kesedihan, maka ia pun harus memandangnya sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala. Dalam Al-Qur`an surah Al-Ankabut ayat 2, Allah Ta’ala sudah menjelaskan bahwa orang-orang beriman pasti akan mendapatkan cobaan dalam kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman:

 أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi”

Minggu, 04 Oktober 2020

SELAMAT DATANG KADER DA’I ILALLAH

(Sambutan Pembukaan Mastama STID Mohammad Natsir Tahun Akademik 2020-2021)

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ  أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  …أَمَّا بَعْدُ

Puji dan syukur mari sama-sama kita panjatkan kepada Allah Ta’ala, atas segala nikmat yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita semua, termasuk dan terutama adalah nikmat diutusnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang membawa ajaran Islam bagi keselamatan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Ta’ala curahkan kepada Nabiyullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau dan seluruh pengikut beliau yang senantiasa istiqomah melanjutkan tugas kerasulan beliau dengan menegakkan da’wah.

Alhamdulillah, hari ini kita semua Allah Ta’ala takdirkan untuk berkumpul pada majlis virtual, dalam  rangka mengikuti pembukaan acara Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Tahun Akademik 2020-2021. Mastama adalah acara rutin tahunan yang dilaksanakan oleh STID Mohammad Natsir dalam rangka menyambut kedatangan mahasiswa baru, para kader da’i yang akan mengikuti proses pengkaderan di STID Mohammad Natsir.

Rabu, 10 Juni 2020

MASALAH PENELITIAN, FOKUS PENELITIAN DAN FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF



(Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I.)

Sebagaimana sudah dijelaskan dalam materi sebelumnya, bahwa langkah pertama dalam penelitian adalah menemukan masalah penelitian. Kemudian hasil dari penemuan masalah penelitian  itu dituliskan dalam Latar Belakang Masalah.
Khusus untuk penelitian kualitatif, masalah yang sudah ditetapkan di awal tidaklah bersifat absolut atau pasti. Melainkan bersifat fleksibel, artinya masalah penelitian dapat berubah setelah peneliti turun ke lapangan dan mendapatkan fakta dan data yang mengharuskan masalah penelitian dirubah. Secara sederhana, ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada masalah penelitian kualitatif, yaitu[1]:
1.      Masalah penelitian yang sebelumnya sudah ditetapkan terus berlanjut sampai penelitian selesai. Karena data dan fakta di lapangan sesuai dengan masalah penelitian yang telah ditetapkan.
Misalnya, seorang peneliti sudah menetapkan bahwa masalah penelitian yang akan ditelitinya adalah mengenai Pola Hubungan Da’i dan Mad’u di Daerah Industri (Studi Kasus di Perumahan Papan Mas Blok A Tambun Bekasi).
Setelah peneliti turun ke lapangan, ia menemukan fakta bahwa di Perumahan Papan Mas Blok A, terdapat tiga orang da’i dan 75% mad’unya adalah pekerja industri. Dengan demikian, data dan fakta di lapangan sesuai dengan masalah penelitian yang sudah ditetapkan. Sehingga masalah penelitian itu dapat dilanjutkan.

2.      Masalah penelitian yang sebelumnya sudah ditetapkan direvisi sesuai dengan keperluan di lapangan. Karena data dan fakta di lapangan mengharuskan ada sedikit perubahan pada masalah penelitian.
Misalnya, seorang peneliti sudah menetapkan bahwa masalah penelitian yang akan ditelitinya adalah mengenai Pola Hubungan Da’i dan Mad’u di Daerah Industri (Studi Kasus di Perumahan Papan Mas Blok A Tambun Bekasi).
Setelah peneliti turun ke lapangan, ia menemukan fakta bahwa di Perumahan Papan Mas Blok A, terdapat tiga orang da’i, namun hanya 15% saja mad’unya yang pekerja industri. Dengan demikian, data dan fakta di lapangan kurang sesuai dengan masalah penelitian yang sudah ditetapkan. Sehingga masalah penelitian itu harus sedikit dirubah. Setelah melakukan penelitian lebih luas, ternyata mad’u yang mayoritas pekerja industri ada di Blok B. Sehingga peneliti memindahkan objek penelitiannya dari Blok A ke Blok B. Dengan demikian peneliti melakukan revisi terhadap maslah penelitian yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Minggu, 31 Mei 2020

Paradigma Penelitian; Kuantitatif dan Kualitatif


(Oleh : Dr. Dwi Budiman Assiroji)

Pengertian Paradigma
Berikut saya kutipkan pengertian Paradigma dari beberapa sumber:
-          Paradigma dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir.
-          Paradigma adalah cara orang melihat diri mereka sendiri dan lingkungan yang akan mempengaruhi pemikiran (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (konatif).
-          Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai-nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, disiplin intelektual.
-          Paradigma diartikan sebagai sebuah pandangan atau pun cara pandang yang digunakan untuk menilai dunia dan alam sekitarnya, yang merupakan gambaran atau pun perspektif umum berupa cara – cara untuk menjabarkan berbagai macam permasalahan dunia nyata yang sangat kompleks.
-          Paradigma biasanya meliputi tiga elemen utama yaitu metodologi, epistemologi, dan ontologi. Dengan menggunakan tiga elemen ini, manusia menggunakan paradigma untuk meraih berbagai macam pengetahuan mengenai dunia dan berbagai macam fenomena yang terjadi di dalamnya.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya, dimana cara pandang itu ditentukan oleh nilai-nilai, konsep dan asumsi yang dianutnya.
Nilai-nilai, konsep dan asumsi yang dianutnya itu dapat berasal dari ajaran filsafat ataupun ajaran agama yang dianutnya.
Dalam konteks metodologi penelitian, karena metodologi penelitian yang hari ini digunakan adalah metodologi penelitian yang berasal dan dikembangkan oleh budaya ilmu Barat, maka tentu paradigma yang mempengaruhi metodologi penelitian itu adalah juga paradigm yang berasal dari Barat.
Secara umum ada dua paradigm dalam metodologi penelitian, yaitu paradigm kuantitatif dan paradigm kualitatif. Berikut penjelasan tentang kedua paradigm tersebut:

Identifikasi Masalah sebagai Langkah Awal dalam Penelitian


(Oleh : Dr. Dwi Budiman Assiroji)

Pendahuluan
Penelitian adalah kegiatan yang terdiri atas beberapa tahapan. Jika seorang peneliti ingin menghasilkan sebuah penelitian yang baik dan benar, maka ia harus menjalankan proses penelitian itu sesuai dengan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan. Secara umum proses penelitian diawali dengan identifikasi masalah (Problem Identification) dan diakhiri dengan penulisan hasil / laporan penelitian.
Kwalitas sebuah penelitian tentu sangat dipengaruhi oleh kwalitas dari langkah pertama, yaitu identifikasi masalah. Karena itu seorang peneliti harus benar-benar memahami bagaimana sebaiknya melakukan proses identifikasi masalah. Karena itu, dalam tulisan ini, akan coba diuraikan bagaimana cara melakukan proses identifikasi masalah yang baik dan benar.

Ketua STID Mohammad Natsir Ikuti Madani SEA Leadership Program 2025 di Malaysia

   Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, mengikuti program   Madani South East Asia Leadership Program   (MSeaLP2025) di Kua...