Sabtu, 07 Mei 2022

EKSPEDISI DA'WAH MANGGARAI NTT. (Program Kafilah Da'wah 1443 H)



*Hari ke 1 (Kamis, 21 April 2022)*

Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah (STID) Mohammad Natsir ramadhan tahun 1443 H ini kembali mengirimkan Tim Ekspedisi Da'wah dalam rangkaian program Kafilah Da'wah. Kali ini ekspedisi diarahkan ke wilayah Manggarai NTT. Tim ekspedisi terdiri atas saya, Dwi Budiman, Andi Marwan (Biro Pengabdian Masyarakat) dan Faris Rasyid (Dokumentasi). Berangkat Kamis dini hari, 21 April 2022 dari bandara Soekarno Hatta. Perjalanan udara selama 3 jam, sampai pukul 06.00 WITA di bandara El Tari Kupang. Udara Kupang cerah.


Kami dijemput kawan-kawan Dewan Da'wah NTT, ada Akh Lalu Abdul Mukti, Akh Umar Arasula dan Akh Rusdiadi Masang. Mereka semua alumni STID Mohammad Natsir. Plus Mas Angga, Direktur Laznas Dewan Da'wah NTT. Kami dibawa ke markas Dewan Da'wah NTT di Jalan Lapangan Tembak, Nunbaun Sabu Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di markas ini berkantor Dewan Da'wah, Laznas dan ADI NTT. Kami dipersilahkan untuk mandi dan istirahat sejenak. Pukul 10.00 WITA kami kemudian diantar ke pelabuhan Bolok Kupang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Kapal Ferry. Rusdiadi Masang, alumni STID Mohammad Natsir yang sedang bertugas sebagai Musyrif ADI Kupang, ditugaskan ketua Dewan Da'wah NTT untuk membersamai kami. Berarti tim kami sekarang berjumlah empat orang.

Sabtu, 30 April 2022

Do'a Akhir Ramadhan untuk Masa Depan Perjuangan



اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم


Ya Allah di malam terakhir bulan Ramadhan tahun 1443 H ini, kami bermunajat kepadaMu untuk kebaikan dunia dan akhirat kami, untuk kebaikan diri dan keluarga kami,  untuk kebaikan guru-guru, kawan-kawan seperjuangan, dan kader-kader kami, untuk kebaikan anak-cucu dan masa depan ummat ini....


Ya Allah mudahkan urusan dunia dan akhirat kami. Kumpulkanlah kami di dunia dengan ikatan iman kepadaMu dan kumpulkanlah kami di akhirat, dibawah naungan ridhoMu, di dalam surgaMu yang penuh dengan kenikmatan...


Ya Allah terimalah segala amal ibadah yang telah kami tunaikan selama Ramadhan ini. Anugerahkankah ampunanMu bagi kami. Berikanlah hidayahMu agar kami dapat Istiqomah dalam ketaatan kepada Mu selepas Ramadhan ini.


Ya Allah mudahkanlah kami untuk mendidik diri, istri dan anak-anak kami agar Istiqomah dalam ketaatan kepada Mu dan istiqamah di jalan da'wah ini. Jadikanlah keluarga kami menjadi keluarga da'wah yang dapat menopang kewajiban da'wah kami. Berikanlah kesabaran kepada keluarga kami dalam menghadapi segala cobaan yang akan kami hadapi di jalan da'wah ini. Bukakanlah pintu-pintu keberkahan untuk keluarga kami. Satukanlah keluarga kami, di dunia dan akhirat, senantiasa dalam ridhoMu.


Ya Allah mudahkanlah kami, guru-guru kami, kawan-kawan seperjuangan kami dan kader-kader kami dalam mengemban amanah da'wah ini. Tancapkan keimanan dan keikhlasan ke dalam hati-hati kami pada setiap langkah-langkah da'wah kami. Satukanlah senantiasa hati-hati. Jauhkan kami dari perselisihan dan perpecahan. Lindungi kami dari godaan dunia yang dapat merusak amal ibadah dan amal da'wah kami. Berikan kesabaran kepada kami dalam menghadapi cobaan di jalan da'wah ini. Anugerahkanlah jalan-jalan keluar dari setiap kesulitan yang kami hadapi. Limpahkan pahala atas peluh dan darah yang telah kami keluarkan di jalan perjuangan da'wah ini.


Ya Allah jadikanlah anak-cucu kami menjadi generasi Islam yang beriman, betaqwa dan Istiqomah dalam berjuang melanjutkan jalan risalah dan da'wah ini. Jadikanlah mereka generasi yang mampu menjaga agama dan ummat ini, meninggikan kehormatan agama dan ummat ini, memenangkan agama dan ummat ini.


وصلي الله علي نبينا محمد والحمد لله رب العالمين....


Bumi Allah

Akhir Ramadhan 1443 H

Jumat, 01 April 2022

Hikmah Syari'at Shaum Ramadhan



Salah satu dari nama Allah Ta'ala adalah Al-Hakim ( الحكيم) yang memiliki arti Maha Bijaksana. Dengan demikian Allah Ta'ala adalah Dzat yang memiliki sifat bijaksana (الحكمة). Bijaksana artinya profesional atau melakukan yang terbaik dalam satu urusan dan menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya.
Dengan pengertian di atas, maka kita meyakini bahwa setiap ciptaan Allah dan setiap syariat Allah pasti mengandung hikmah yang luas. Hanya saja tidak semua orang dapat memahami hikmah-hikmah tersebut. Hanya orang yang Allah berikan ilmu dan petunjuk saja yang dapat memahaminya.


Demikian pula dengan ibadah shaum, khususnya shaum di bulan Ramadhan. Ia memiliki hikmah yang amat banyak. Diantara hikmah itu adalah:

1. Mendidik Jiwa agar dapat Menggapai Taqwa
Ini adalah hikmah terbesar dari ibadah shaum, yakni agar orang yang melaksanakan shaum dapat menggapai derajat taqwa. Sebagaimana yang dengan jelas difirmankan Allah Ta'ala:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Ibadah shaum dapat mendidik Jiwa untuk menggapai derajat taqwa karena dalam ibadah shaum terdapat unsur-unsur ketaqwaan. Para ulama menjelaskan bahwa makna taqwa adalah:
والتقوى هي فعل ما أمر الله تعالى به ، وترك ما نهى عنه .
"Taqwa adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang."

Demikian pula dalam shaum, terutama di bulan Ramadhan, banyak terdapat perintah untuk melaksanakan ketaatan, seperti perintah shalat, infaq, zakat, membaca Al-Qur'an, berbuat baik, berdzikir dan perintah lainnya. Juga banyak larangan, seperti larangan makan, minum dan berjima di siang hari, larangan berkata kotor, larangan berbuat jahat, larangan  ghibah, larangan mengadu domba, larangan mengumbar hawa nafsu dan larangan-larangan lainnya.
Maka orang yang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan, seharusnya memahami hikmah ini, bahwa ibadah shaum yang sedang ia jalankan pada hakikatnya mendidik dirinya untuk membiasakan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan larangan Allah Ta'ala. Dengan kata lain, di bulan ramadhan orang beriman dibiasakan untuk melaksanakan ketaqwaan.
Karena taqwa ini adalah hikmah terbesar dari ibadah shaum, maka hikmah lainnya adalah hikmah yang menopang hikmah taqwa ini.

2. Mendidik Jiwa untuk Bertaubat
Dalam satu haditsnya Rasulullah menjelaskan bahwa ketika seorang manusia melakukan dosa maka akan muncul satu titik hitam dalam hatinya. Semakin banyak berbuat dosa, semakin banyak pula titik hitam muncul di dalam hatinya. Rasulullah bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ" ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14]
"Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa maka akan muncul satu titik hitam dalam hatinya. Apabila ia sadar, meminta ampun dan bertaubat maka bersihlah hatinya. Namun apabila ia mengulangi perbuatan dosanya, bertambahlah titik hitam dalam hatinya, sampai harinya diselubungi tirai hitam. Itulah yang dimaksud Raan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."

Sementara di bulan Ramadhan, Allah Ta'ala banyak memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan membersihkan hati kita. Bahkan dalam satu haditsnya Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bertemu dengan ramadhan namun ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia sesungguhnya adalah orang yang merugi. Rasulullah bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
"... Celakalah seseorang yang diberikan kesempatan untuk bertemu Ramdhan, kemudian Ramadhan berlalu sementara ia tidak mendapatkan ampunan..."

Diantara kesempatan yang Allah berikan adalah ibadah shaum dan ibadah qiyam di bulan Ramadhan yang pahalanya adalah diampuni segala dosa yang telah dilakukannya.
Demikian juga setiap malam di bulan Ramadhan Allah Ta'ala membebaskan hambaNya dari siksa neraka.
Dengan dibukanya banyak kesempatan untuk bertaubat itu, seorang beriman sedang dididik jiwanya untuk terbiasa bertaubat selama hidupnya.

3. Mendidik Jiwa untuk Memaafkan dan Menjaga Orang Lain dari Kejahatannya

Salah satu hikmah shaum Ramadhan adalah mendidik jiwa untuk menjaga diri dari berbuat jahat kepada orang lain. Di bulan Ramadhan, ketika melaksanakan ibadah shaum, banyak larangan yang Allah berikan. Larangan berkata kotor, larangan berbuat jahat, larangan bermusuhan, larangan menyakiti orang lain dan larangan lainnya. Ini adalah pola pendidikan agar jiwa terbiasa menahan diri dari menyakiti orang lain. Kebiasaan ini sesungguhnya adalah kebiasaan orang Islam, karena orang Islam lainnya terbebas dari kejahatan lisan dan tangannya. Sebagaimana sabda Rasulullah:
المُسلِمُ مَن سَلِمَ المسلمون مِن لسانه ويده
"Orang muslim itu adalah orang yang orang muslim lainnya selamat dari kejahatan lisan dan tangannya."

Ibadah shaum Ramadhan juga mendidik Jiwa agar mudah memaafkan orang lain. Karena itu, ketika Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang do'a apa yang sebaiknya dibaca di akhir Ramadhan, Rasulullah mengajarkan do'a berikut:
اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, menyukai Pemaafan, maka maafkanlah aku."

Dari hadits di atas, Ibnu Rajab menjelaskan bahwa salah satu nama dan sifat Allah itu adalah Al-'Afwu, Maha Memaafkan. Maka Allah menyukai memberikan maaf kepada hamba-Nya yang berbuat dosa. Dan Allah juga menyukai hambaNya yang memaafkan kesalahan saudaranya.
Maka ketika kita ingin mendapatkan pemaafan dari Allah Ta'ala atas dosa dan kesalahan yang sudah kita lakukan, maka sudah selayaknya kita pun memaafkan kesalahan saudara kita.

4. Mendidik Jiwa untuk Bersyukur

Ketika seorang hamba dilarang untuk makan dan minum di siang hari, maka ia akan mengalami haus dan lapar yang sangat. Maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasakan nikmat yang amat besar, yakni dibolehkannya makan dan minum saat kondisinya sedang lapar dan haus. Ketika itu jiwa akan sangat bersyukur atas nikmat makan dan minum yang Allah berikan . Sebagaimana yang digambarkan Rasulullah:
للصائم فرحتان: فرحة حين يفطر، وفرحة حين يلقى ربه.
"Bagi orang yang shaum terdapat dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabnya."

Padahal di hari-hari biasa, Allah juga memberikan kepadanya nikmat makan dan minum. Hanya saja karena ia makan dan minum dalam kondisi yang tidak terlalu lapar dan haus sebagaimana kondisi ketika ia shaum, maka nikmat makan dan minum itu dianggap biasa saja. Shaum mengingatkan hamba untuk senantiasa mensyukuri nikmat makan dan minum yang Allah berikan.

5. Mendidik Jiwa untuk Menjaga Kesehatan Raga

Salah satu hikmah shaum adalah membiaskan jiwa menjaga raga dengan makan, minum dan tidur secara teratur dan tidak berlebihan.
Jika di hari biasa, bisa jadi kita terbiasa banyak makan dan minum tanpa ada aturan yang tetap, maka saat shaum kita dilatih untuk makan dan minum secara teratur. Demikian juga dengan tidur. Bisa jadi di luar Ramadhan ada sebagian kita yang sulit untuk bangun sebelum subuh. Namun di bulan Ramadhan kita dididik untuk bangun tidur sebelum waktu subuh.
Dua hal ini, selain merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah, juga memiliki efek positif terhadap raga kita. Tak heran jika penemuan ilmiah mengatakan bahwa shaum memiliki efek positif terhadap kesehatan. Maka kebiasaan baik yang berdampak positif terhadap kesehatan raga ini adalah juga menjadi salah satu hikmah shaum.
Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak hanya memperhatikan aspek Ruhani saja, tapi Islam juga sangat memperhatikan aspek jasmani.

Semoga kita semua dapat memahami dengan baik hikmah-hikmah dari ibadah shaum Ramadhan ini. Sehingga ketika kita melaksanakan ibadah shaum Ramadhan ini kita akan melaksanakannya dengan penuh kesungguhan karena kita memahami hikmah besar yang ada di balik ibadah shaum Ramadhan tersebut.

Senin, 14 Maret 2022

Tiga Catatan dari Buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak

 


Sore ini saya diminta oleh Ustadz Muhammad Hanif, salah seorang peserta Kaderisasi Ulama Dewan Da'wah, untuk memberikan keynote speech dalam acara Literasi Peradaban Islam dengan membedah buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak. Buku ini adalah hasil wawancara lima generasi muda saat itu, tahun 1986-1987, kepada Mohammad Natsir.


Maka dalam keynote speech saya sampaikan ada tiga catatan penting yang dapat diambil dari buku ini. Ketiga catatan itu adalah:


Pertama, proses penyusunan buku ini mencerminkan perhatian besar Pak Natsir kepada generasi muda. 

Pak Natsir lahir tahun 1908, sementara kelima pewawancara beliau lahir antara tahun 1938-1948. Endang S. Anshori (1938), Kuntowijoyo dan Yahya Muhaimin (1943), Amien Rais (1944), A Watik Pratiknya (1948).

Artinya perbedaan usia Pak Natsir dengan para pewawancaranya itu antara 30-40 tahun. Seusia anak-anak kandung Pak Natsir.

Namun demikian Pak Natsir bersedia menyediakan waktunya berkali-kali untuk diwawancarai mereka. Bahkan putri Pak Natsir, Ibu Aisjah Natsir, pernah menjelaskan bahwa satu kali ketika Pak Natsir sedang diwawancarai di rumah beliau, proses wawancara selalu terputus karena datangnya tamu lain. Maka kemudian tempat wawancara Pak Natsir pindahkan ke satu rumah makan agar bisa berjalan lancar.

Perhatian Pak Natsir kepada para pewawancaranya, generasi muda itu, kemudian terbukti membuahkan hasil yang luar biasa. Dimana kelima anak muda itu di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh umat Islam yang melanjutkan perjuangan Pak Natsir. Tentu sesuai dengan posisi dan kecenderungannya masing-masing.


Kedua, buku ini memperlihatkan spektrum pemikiran Pak Natsir yang sangat luas. Dari mulai pemikiran da'wah, pendidikan, politik, sosial, bahkan sampai kajian dunia internasional.

Artinya, seorang ulama, tidak seharusnya membatasi keilmuannya hanya pada satu atau dua area saja. Atau apa yang hari ini diistilahkan dengan linieritas keilmuan. Namun seorang ulama harus terus mengembangkan ilmunya semaksimal yang dia mampu.

Hal ini juga menggambarkan kuatnya kemampuan belajar otodidak Pak Natsir. Satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang da'i dan ulama.


Ketiga, isi buku ini adalah warisan yang sangat berharga dari seorang Mohammad Natsir. Maka tugas para pelanjutnya, tugas para kadernya, adalah mengkaji buku ini, kemudian memformulasikan ulang sesuai dengan kondisi hari ini. Sehingga formulasi itu dapat lebih mudah diterapkan atau diimplementasikan dalam perjuangan da'wah hari ini.

Sehingga warisan Pak Natsir ini tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tapi juga menjadi panduan yang dapat kita gunakan dalam perjuangan da'wah kita hari ini. 


Demikian tiga catatan dari buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak ini.

(Dwi Budiman Assiroji/ Ketua STID Mohammad Natsir)

Dewi Machdanefo; Istri Ustadz Syuhada Bahri (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah)

 


Ustadz Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, dikenal sebagai da'i yang sering keluar masuk pedalaman Indonesia untuk berdakwah. Semenjak menjadi Ketua Umum, beliau juga kerap meninggalkan tanah air guna mewakili Dewan Da'wah dalam acara-acara Internasional. Tentu aktifitas Ustadz Syuhda itu mengharuskannya sering meninggalkan keluarga. Bagaimana suka duka menjadi istri da'i seperti Ustadz Syuhada?. Berikut wawancara Suara Hidayatullah dengan Dewi Machdanefo, sang istri:

 

Suami Ibu sering meninggalkan keluarga guna melaksanakan tugas dakwah. Sebagai istri bagaimana Ibu menyikapinya?

Dari awal saya menikah dengan Bapak saya tahu Bapak seorang da'i yang sering ditugaskan untuk berdakwah ke daerah-daerah. Tentu saya sudah mempertimbangkan pasti bakal sering ditinggal. Jadi saya sudah bisa menerimanya, itulah resiko istri seorang da'i. Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah, selama saya dan Bapak saling percaya, bahwa Bapak pergi meninggalkan kami dalam rangka melaksanakan tugas dakwah, maka saya pun harus bisa menjalankan amanah menjaga anak-anak di rumah. Jadi dari awal memang sudah tahu resiko menjadi istri seorang da'i, tidak hanya resiko sering ditinggal, tapi juga resiko secara keseluruhan, sampai pahit-pahitnya, namanya sudah jodoh kita harus jalani.

 

Selama ditinggal, ada perasaan khawatir terhadap Bapak?

Kalau soal mengkhawatirkan kesehatan Bapak iya, tapi kita suka terus komunikasi sepanjang masih bisa. Bapak kan punya sakit gula, jadi kolesterolnya harus dijaga, ya saya suka mengingatkan masalah makannya. Tapi kalau kekhawatiran yang negatif InsyaAllah tidak ada. Paling saya mendoakan setiap shalat, semoga Bapak selama dalam berdakwan di daerah dilindungi Allah, dimudahkan segala urusannya.

 

Bagaimana menjaga hubungan sebagai suami istri di tengah sering ditinggal seperti itu?

(Tertawa) ya ditelepon bisa juga, atau lewat sms pake kata-kata. Kalau ada rasa kangen diungkapkan saja.

 

Bagiman cara mendidik anak di tengah sering ditinggal Bapak seperti itu?

Sebagai orang biasa namanya repot pasti ada, salah satu alternatifnya, ke – 12 anak ini tidak semuanya di rumah, anak-anka kami lulus SD dimasukan pesantren. Niat awalnya supaya mereka punya dasar agama yang kuat, tujuan lainnya agar dapat mengurangi beban di rumah, (tertawa) paling tidak yang di rumah ada 9 orang, yang 3 orang di pesantren, seperti sekarang. Paling yang agak repot yang maih kecil-kecil ini, yang SD ke bawah.

 

Anak-anak suka protes sering ditinggal Bapaknya?

Kalau yang besar sudah mengerti, saya kasih pengarahan kalau Bapak pekerjaannya tidak seperti orang lain, pekerjaan Bapak itu dakwah. Yang kecil-kecil biasa yang suka nanya, 'Bapak kok perginya lama sekali, nggak pulang-pulang.' Saya katakan bahwa Bapak tugasnya memberikan bimbingan pada saudara-saudara kita yang jauh. Biar agamanya lebih kuat. Walaupun begitu anak-anak kan berpikirnya masih polos, 'Oh Bapak cari uang ya.' (Tertawa). Saya jawab, 'Ya insya Allah lewat itu Allah akan memberi rizki juga untuk anak-anak, untuk sekolah, makannya kamu harus bisa mendoakan Bapak supaya sehat.'

 

Kabarnya dari 12 kali melahirkan tidak semua didampingi Bapak. Bagaiaman perasaannya?

Sebagai manusia ada sedikit rasa kecewanya, tapi karena sudah paham pekerjaan Bapak, ya pasrah saja, yakin semua pertolongan dari Allah. Ketika melahirkan anak terakhir juga Bapak lagi umroh, padahal lahirnya dioperasi. Tapi alhamdulillah masih bisa kontak, walaupun  tidak mendampingi secara fisik tapi lewat telepon itu bisa membantu dengan semangat. Kita tidak merasa sendiri.

 

Bagaimana dengan keluarga Ibu?

Alhamdulillah keluarga saya menerima Bapak dengan segala resikonya. Waktu saya nikah Bapak saya sudah tidak ada. Tapi waktu masih hidup Bapak saya sudah kenal dengan suami, sudah menerima.

 

Membagi waktu dengan anak 12 bagaimana?

Intinya kan kalau anak-anak waktu mau sekolah. Kalau Bapaknya disambil saja. Jalan dengan sendirinya. (tertawa)

 

Bagaimana hubungan Bapak dengan anak-anak?

Alhamdulillah setiap seminggu sekali, kalau Bapak tidak keluar kota, kita kumpul semua. Sharing sama anak-anak, anak-anak ada keluhan, jawaban orang tua bagaimana. Bapak juga menyampaikan kondisi Bapak sekarang, Bapak juga suka cerita dulu bagaimana, anak-anak biar tahu Bapak itu tidak langsung seperti sekarang. Tapi dimulai dari bawah, dengan kerja keras bisa seperti sekarang. Jadi tidak tiba-tiba. Dengan begitu anak-anak mengerti, kalau Bapak sedang tugas ke luar jangan dianggap tidak memperhatikan. Itu juga tugas dan demi untuk anak-anak juga. Bapak itu sama anak-anak, kalaupun jarang ketemu, alhamdulillah deket. Kalau dari Makkah Bapak suka bawa oleh-oleh, suatu hari bapak bawa batu warna-warni untuk tanaman.  Ternyata cokelat. Bapak  suka menggendong anak-anak, bukan hanya yang kecil, yang besar juga. Kalau ibunya jangan ditanya. (tertawa).

 

Selain sering ditinggal resiko apalagi yang selama ini Ibu rasakan?

Termasuk ya resiko ekonomi misalnya. Kalau pegawai negeri kan sudah pasti sekian, bapak juga ada dari Dewan Da'wah sekian-sekiannya, tapi jumlahnya kalau menurut akal tidak seimbang dengan keperluan kami, dengan anak 12 orang. Tapi Alhamdulillah terpenuhi juga kebutuhan kami, Alhamdulillah  makan selalu bisa walau seadanya. Untuk bayar sekolah sering juga nunggak. Gimana ada rizkinya saja. Tapi saya percaya bahwa rezeki itu Allah yang ngatur, walaupun kami diberi amanah anak banyak, dimana kalau secara akal, nggak mungkin sepertinya kami bisa menghidupi anak-anak kami. Tapi kami yakin Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah yang mengatur rezekinya. Allah kasih rizkinya dari jalan lain. Cicak saja bisa hidup, masa kita manusia tidak bisa. Kuncinya kita mensyukuri rezeki yang sudah Allah berikan, kita atur sebisa mungkin. Bapak sering bilang, barang-barang kami mereknya kasio,  dikasih orang. Boleh dibilang beli nggak pernah. Semuanya mereknya kasio. (tertawa)

 

Apa kontribusi yang anda berikan dalam tugas Bapak?

Secara ilmu saya tidak bisa, karena Bapak lebih banyak ilmunya. Dulu juga niat saya nikah dengan Bapak itu dari awal karena saya ingin dibimbing  dalam hal agama. Tapi mungkin yang utama bantu do'a, supaya Bapak diberikan kesehatan lahir batin, tahan dalam berdakwah, menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian melayani sebagai istri dan ibu dari anak-anak, itu saja.

 

Bapak sendiri bagaimana cara mendidik Ibu sebagai istri?

Saya ini sebagai ibu kadang sering emosi, kurang sabar, kadang kesel, nah itu Bapak suka mengingatkan, 'Sudah sabar', kalau sudah gitu sudah hilang aja marahnya. Jadi bisa memadamkan emosi saya.

 

Kesan anda terhadap Bapak?

Yang pasti Bapak itu suami yang paling baik sedunia (tertawa). Lebih sabar dari saya.

 

Dengan poisi Bapak sebagai ketua Dewan Da'wah, bagaimana perasaan Ibu?

Waktu pertama Bapak menyampaikan berita itu, saya rasanya bukan gembira malah takut, takut tidak bisa menjaga keluarga, kalau saya atau anak saya jelek, na'udzubillah, yang kebawa nama bapak juga. Saya agak berat. Tapi ya kalau memang Bapak diamanhi itu, ya saya hanya bisa mendoakan saja, mudah-mudahan dengan begitu saya dan anak-anak bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

 

Pesan anda untuk para istri da'i?

Yang sabar saja, artinya bisa menerima dengan ikhlas suami yang bertugas di daerah. Kita harus bisa mendoakan terus semoga Allah bisa melindungi suami kita selama menjalankan tugasnya, karena itu ibadah.

  

 

 

 

Box:

Dewi, anak ke lima dari enam bersaudara ini, lahir di Jakarta pada bulan November tahun 1963, sementara Syuhada Bahri lahir pada bulan Juni 1954. Mereka menikah pada bulan Juli 1985. kini telah dikaruniai 12 orang anak, “Hitungan saya berhentinya di sepuluh, makannya anak ke sepuluh dikasih nama Sofia Kamilah, sempurna lah sudah, eh ada lagi”, ujar Syuhada. “Makannya istri saya sehat terus, karena waktu untuk sakit sudah nggak ada lagi, habis untuk ngurus anak”, ujarnya lagi sambil diiringi tawa.

 

 

Ustadz Syuhada Bahri:

 

Saya bersyukur memiliki istri seperti istri saya, yang mau menerima saya sebagai seorang da’i apa adanya. Dari awal sebelum menikah saya sudah katakan kepada istri saya bahwa “Kamu itu istri ke dua saya, istri pertama saya adalah ummat. Karena itu jangan halangi saya kalau urusannya urusan ummat.” Karena itu istri saya tidak pernah menghalangi saya dalam dakwah, justru sangat mendukung. Dalam hal ekonomi misalnya, ketika dulu kita terpaksa tidak makan satu hari, istri saya nggak marah-marah. Tapi alhamdulillah itu hanya sekali, dan tidak pernah terulang sampai saat ini, mudah-mudahan ke depan juga.

Saya tidak harus terlalu ngajarin istri saya untuk menjadi seperti itu, karena dulu sudah cukup terbina ketika di HMI. Memang dulu saya berfikir kalau bisa istri saya harus yang tidak terlalu repot ngajarin lagi. Karena jika tidak, waktu saya nanti akan habis untuk mengajari istri. Makannya yang saya ambil yang sudah setengah matang (tertawa).

Sementara untuk menjaga hubungan saya dengan keluarga ditengah sering saya tinggal, berada dimana saja saya selalu kontak, dulu belum ada HP, saya datang kemana saja, ketika ada telepon, saya kontak. Sampai pernah ada jamaah haji, ketika saya menelepon rumah mereka mengatakan, “Wah ustadz itu berapa bayarnya?,” saya katakan, “Uang itu bisa dicari, kalau hanya karena ingin menghemat uang, kemudian komunikasi kita dengan keluarga terputus itu bisa lebih mahal harganya.”

(Dwi Budiman)

Senin, 28 Desember 2020

TAUSYIYAH UNTUK KADER DA’I DI KAMPUNG HALAMAN

                 


Kader da’i, para mahasiswa STID Mohammad Natsir, yang dirahmati Allah Ta’ala., hari-hari belakangan ini kita semua menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan, terutama terkait dengan semakin mewabahnya virus Corona di tengah-tengah masyarakat kita. Sehingga kondisi itu memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap proses perkuliahan dan proses pengabdian kita di Kampus Da’wah ini. Semoga Allah Ta’ala. memberikan kekuatan iman kepada kita dan segera mengangkat wabah ini dari tengah-tengah kita.

Dampak yang paling kita rasakan dari wabah tersebut adalah dengan dipulangkannya antum semua ke rumah masing-masing dan dialihkannya kuliah tatap muka menjadi kuliah online. Ini semua kita lakukan sebagai bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menghindari dan menahan laju penyebaran wabah virus Corona, sesuai dengan petunjuk dan arahan dari pemerintah dan Dewan Da’wah Pusat.

Kader da’i yang dirahmati Allah Ta’ala., untuk itu ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada antum semuanya, yaitu:

UJIAN ADALAH KASIH SAYANG ALLAH TA’ALA BAGI ORANG BERIMAN

 Dalam kehidupan, manusia tidak selalu mendapatkan kesenangan, manusia seringkali juga mendapatkan kesulitan. Tidak selalu mendapatkan kesehatan, seringkali juga mendapatkan kesakitan. Tidak selalu mendapatkan kekayaan, seringkali juga mendapatkan kemiskinan. Tidak selalu mendapatkan kebahagiaan, seringkali juga mendapatkan kesedihan. Itulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia di alam dunia ini.

Orang beriman, ketika memandang kedua sisi dalam kehidupan itu, maka ia harus memandangnya sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala. Maka ketika ia memandang sesuatu yang jelek dalam hidupnya, seperti kesulitan, kesakitan, kemiskinan atau kesedihan, maka ia pun harus memandangnya sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala. Dalam Al-Qur`an surah Al-Ankabut ayat 2, Allah Ta’ala sudah menjelaskan bahwa orang-orang beriman pasti akan mendapatkan cobaan dalam kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman:

 أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi”

Ketua STID Mohammad Natsir Ikuti Madani SEA Leadership Program 2025 di Malaysia

   Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, mengikuti program   Madani South East Asia Leadership Program   (MSeaLP2025) di Kua...