Rabu, 22 Maret 2023

SAHUR ADALAH IBADAH


Oleh : Dwi Budiman Assiroji 

Dalam pelaksanaan ibadah shaum, termasuk di bulan Ramadhan, ada satu bagian dari ibadah shaum itu yang dilaksanakan sebelum berkumandang adzan subuh, yaitu makan sahur. 


Mengenai makan sahur ini, perlu diperhatikan betul, jangan sampai dilaksanakan hanya semata sebagai persiapan shaum saja, agar tidak terlalu lapar dan haus di siang harinya. Lebih daripada itu, makan sahur harus dimaknai sebagai bagian dari ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.


Artinya, ketika kita melaksanakan sahur, harus kita niatkan bahwa sahur itu kita lakukan sebagai pelaksanaan dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah _shalallahu alaihi wa sallam_ yang memerintahkan sahur:


عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَيْءٍ واه أحمد (14533)

Dari sahabat mulia Jabir dari Nabi _Shalallahu alaihi wa sallam_ ia bersabda: _"Siapa yang akan melaksanakan shaum maka hendaklah ia makan sahur."_


Bahkan dalam satu haditsNya Rasulullah menjelaskan bahwa sahur adalah Sunnah bagi umat beliau karena sahur menjadi pembeda antara shaumnya ahlul kitab dengan shaumnya kita, ummat Nabi Muhammad _Shalallahu alaihi wa sallam._


فقال صلى الله عليه وسلم: «فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب، أكلة السَّحر» (رواه مسلم).


Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: _"Pembeda antara shaum kita dengan shaum ahlul kitab adalah makan sahur."_ (HR. Muslim)


Maka dengan demikian makan sahur harus kita lakukan dengan niat melaksanakan Sunnah Rasulullah _shalallahu alaihi wa sallam ini._ Sehingga sahur kita bukan semata-mata aktifitas makan dan minum sebagai persiapan melaksanakan shaum, tapi juga menjadi satu Ibadah yang tentu akan mendapatkan pahala dari Allah _Ta'ala._


Lebih dari itu, Rasulullah _shalallahu alaihi wa sallam_ menjelaskan bahwa di dalam sahur itu ada keberkahan.


عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً رواه البخاري (1923)، ومسلم (1095).


Dari sahabat mulia Anas bin Malik semoga Allah meridhoinya, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:_"Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur ada keberkahan"_


Berkah yang dimaksud berada dalam sahur adalah kebaikan-kebaikan yang terdapat didalamnya. Diantaranya adalah:


- Dengan melaksanakan sahur berarti kita mengikuti salah satu Sunnah Rasulullah _shalallahu alaihi wa sallam_. Dengan demikian kita akan mendapatkna pahala.


- Dengan melaksanakan sahur, maka kita berkesempatan untuk memperbanyak dzikir dan istighfar di waktu sahur. Ini merupakan satu keutamaan tersendiri.


- Dengan melaksanakan sahur maka kita tidak akan merasa terlalu lapar dan haus di siang harinya sehingga kita tetap bisa melaksanakan ibadah dengan maksimal. Sebab orang yang mengalami lapar dan haus yang sangat, ia tidak akan dapat beribadah dengan maksimal.


- Dengan melaksanakan sahur maka kita akan dengan mudah melaksanakan shalat subuh berjamaah pada waktunya.


- Allah _Ta'ala_ dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.


إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.


_"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur."_


 Yang dimaksud dengan shalawat dalam hadits di atas adalah kasih sayang dan ampunan.


Demikian pembahasan singkat mengenai sahur. Semoga bermanfaat untuk kita semua.


(Malam 1 Ramadhan 1444 H.)

Rabu, 28 Desember 2022

Kunjungan Dewan Da'wah Jatim ke STID Mohammad Natsir




 Menerima silatul ukhuwwah penuh berkah dari Ketua Dewan Da'wah Jawa Timur, Kyai Fathurahman, dan rombongan. Kami mendiskusikan konsep kaderisasi da'i di STID Mohammad Natsir maupun di Akademi Da'wah Indonesia Jawa Timur. Tentu dengan tujuan agar ke depan kader-kader da'i yang dihasilkan lebih berkualitas lagi.

Rombongan Dewan Da'wah Jawa Timur juga bertemu dengan seluruh mahasiswa STID Mohammad Natsir asal Jawa Timur, agar terjadi hubungan kuat antara Bapak dan Anak. Hubungan ideologis dalam mengemban dan terus mengembangkan gerakan da'wah ini.

Jumat, 09 Desember 2022

USTADZ ACENG ZAKARIA DAN KENANGAN BERSAMA SAYA

 



Sudah lama saya mendengar nama Ustadz Aceng Zakaria, sejak kelas 1 SD sekitar tahun 1990 an. Ketika kakak saya, Teh Eko Yuliarti, mulai masuk pesantren Persis No 19 Bentar Garut. Waktu itu Bapa saya bilang bahwa pesantren itu dipimpin oleh seorang Ustadz besar bernama Aceng Zakaria.


Lima tahun kemudian, saya menyusul Teh Yuli masuk pesantren Persis No 19 Bentar Garut. Namun saat itu Ustadz Aceng sudah pindah ke pesantren Persis No 99 Rancabango. Sementara pesantren Bentar dipimpin oleh Ustdaz Entang Muchtar ZA. Sehingga saya tidak sempat diajar oleh Ustadz Aceng.


Namun saya sering mengikuti pengajian rutin yang dibimbing oleh Ustadz Aceng. Sepekan sekali, bertempat di pesantren Rancabango dari bada Maghrib sampai pukul 8 malam. Dari Bentar biasanya kami naik mobil bak terbuka milik Haji Bandi, pengusaha sukses yang hari ini menjadi pimpinan pesantren Bentar.


Dalam pengajian rutin itu, Ustadz Aceng biasanya menyusun makalah singkat beberapa halaman, difotocopy dan dibagikan kepada seluruh peserta. Sehingga peserta bisa mengikuti kajian dengan lebih baik. Materinya beragam, namun lebih sering materi fiqih ibadah. Peserta juga biasanya dibagi segelas bajigur dan gorengan atau pisang rebus. Bertahun-tahun saya mengikuti kajian Ustadz Aceng ini. Sangat berkesan dengan ciri khas cara penyampaian dari Ustadz Aceng; datar, pelan, sistematis dan segar karena kajiannya mendalam dan seringkali diselingi humor.


Selain belajar langsung kepada Ustadz Aceng, saya juga belajar dari buku-buku beliau. Karena hampir seluruh pelajaran bahasa Arab dan agama di pesantren Bentar menggunakan buku karangan Ustadz Aceng. Nahwu, sharaf, balaghoh, fiqih (Al Hidayah), tauhid, i'rab dan banyak lagi pelajaran lainnya.


Setelah selesai nyantri selama enam tahun di Bentar, saya melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah Mohammad Natsir Bekasi. Semua buku karangan Ustadz Aceng yang saya miliki saya bawa. Buku-buku itu biasa menjadi rujukan terutama ketika saya menemukan masalah fiqih. Bahkan ketika saya dan beberapa kawan mengadakan Pesantren Karyawan di Pusdiklat Dewan Da'wah Bekasi, buku nahwu dan Sharaf karya Ustadz Aceng kami jadikan rujukan.


Selama saya kuliah, hanya sesekali bertemu dengan Ustadz Aceng. Itupun melalui media pengajian, jika Ustadz Aceng ngisi di Jakarta atau Bekasi.


Ketika saya menjadi sekretaris Ketua Umum Dewan Da'wah, Ustadz Syuhada Bahri, pernah satu kali Ustadz Syuhada diundang untuk mengisi Tabligh Akbar di Pesantren Rancabango, sekitar tahun 2013. Saya ikut mendampingi. Dalam pertemuan sebelum acara, saya melihat bagaimana adab kedua ulama yang sangat luar biasa. Ustadz Aceng dengan segudang ilmu dan karyanya begitu menghormati Ustadz Syuhada, demikian juga sebaliknya. _"Dulu guru saya, Ustadz Abdurrahman, sangat menghormati Pak Natsir, maka sekarang saya pun harus menghormati Ustadz yang muridnya Pak Natsir,"_ ujar Ustadz Aceng saat itu kepada Ustadz Syuhada. Selepas acara kami dijamu makan siang di saung belakang rumahnya yang terletak di atas kolam dengan hidangan khas Sunda. _"Semua tamu yang datang ke sini tidak boleh pulang sebelum makan_," kata Ustdaz Aceng saat itu sambil tersenyum.


Setelah itu lama saya tidak bertemu Ustadz Aceng. Sampai kemudian saya melanjutkan kuliah tingkat doktoral di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Untuk tugas akhir saya meneliti mengenai Konsep Kaderisasi Ulama KH. E. Abdurrahman di Persatuan Islam. Dalam rangka mendapatkan data, saya mewawancarai beberapa murid Ustadz Abdurrahman, diantaranya Prof. Maman Abdurahman, Ustadz Hayat Setiawan dan Ustadz Aceng Zakaria.


Maka di waktu yang sudah disepakati saya menemui Ustadz Aceng di rumahnya, sekitar tahun 2019. Beliau menerima saya dengan sumringah di ruang bacanya. _"Bagja ana mah aya anu daek neliti Ustadz Abdurrahman teh, luar biasa ieu jalmi teh, loba pisan jasana ka ana_," kata Ustadz Aceng saat itu membuka percakapan. Selanjutnya saya pun mulai mengajukan berbagai pertanyaan yang dijawab beliau dengan antusias. Hampir tiga jam saya mewawancarai beliau.


Selepas wawancara Ustadz Aceng memanggil istrinya dan minta segera dihidangkan makan siang. _"Biasa didieu mah, tamu teh kudu dahar heula, saaya aya nya_" ujar Ustadz Aceng sambil terkekeh. Saya sebagai murid merasa malu sebetulnya. Merasa tidak pantas dihargai seperti itu. Tapi juga tidak kuasa menolak permintaan seorang guru. Setelah makan kami sempat berbincang sebentar. Saya kemudian pamit. _"Salam kangge Ustadz Syuhada,"_ ujar Ustadz Aceng. Saya pun mengiyakan. Ketika akan beranjak beliau bertanya, _"Geus boga buku ana?,_" saya jawab, _"kantenan Ustadz, mung cetakan nu lami, tilas kapungkur di Bentar."_ Mendengar jawaban itu, Ustadz Aceng langsung menuju rak buku dan mengambil 11 jilid buku. _"Ker oleh-oleh"_, ujarnya. _Maa Syaa Allah_, beruntungnya saya, sudah dapat data, dapat makan, dapat buku pula. Kebaikan seorang guru memang selalu luar biasa.


Setelah itu, saya kembali bertemu Ustadz Aceng di Kantor PP Persis, tahun 2020. Saya ikut serta rombongan Pengurus Dewan Da'wah Pusat  dibawah kepemimpinan Dr. Adian Husaini, yang bersilaturahmi. Dalam pertemuan itu Ustadz Aceng menyampaikan rasa syukurnya karena banyak alumni pesantren Persis yang berkhidmat di Dewan Da'wah.


Pertemuan terakhir saya dengan Ustadz Aceng terjadi tanpa sengaja. Di Rumah Makan Suka Hati Rancaekek, akhir September lalu. Saat itu saya dan beberapa kawan sedang dalam perjalanan ke Garut . Kami sholat dan istirahat di Suka Hati. Tak lama datang Ustadz Aceng dan istri, duduk di meja sebelah. Saya pun menyapa beliau, _"tos ngisi pangaosan Ustadz?_" , _"Ah henteu, ges ngalongok incu_," jawabnya. Saya kemudian menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuannya dalam penulisan disertasi saya. Saya sampaikan bahwa disertasi saya sudah selesai dan sedang proses cetak. Saya berjanji setelah selesai cetak, akan saya antarkan ke rumah beliau. 


Janji yang pada akhirnya tidak dapat saya tunaikan. Karena Senin, 21 November 2022,  kemarin Ustadz Aceng diwafatkan oleh Allah _Ta'ala_. Wafat dalam kebahagiaan dengan ilmu yang bermanfaat yang akan terus mengalirkan pahala untuk beliau....


Semoga Allah _Ta'ala_ senantiasa memberikan rahmatNya yang luas kepada beliau....


(Dwi Budiman, Cipayung 22 November 2022)

Sabtu, 07 Mei 2022

EKSPEDISI DA'WAH MANGGARAI NTT. (Program Kafilah Da'wah 1443 H)



*Hari ke 1 (Kamis, 21 April 2022)*

Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah (STID) Mohammad Natsir ramadhan tahun 1443 H ini kembali mengirimkan Tim Ekspedisi Da'wah dalam rangkaian program Kafilah Da'wah. Kali ini ekspedisi diarahkan ke wilayah Manggarai NTT. Tim ekspedisi terdiri atas saya, Dwi Budiman, Andi Marwan (Biro Pengabdian Masyarakat) dan Faris Rasyid (Dokumentasi). Berangkat Kamis dini hari, 21 April 2022 dari bandara Soekarno Hatta. Perjalanan udara selama 3 jam, sampai pukul 06.00 WITA di bandara El Tari Kupang. Udara Kupang cerah.


Kami dijemput kawan-kawan Dewan Da'wah NTT, ada Akh Lalu Abdul Mukti, Akh Umar Arasula dan Akh Rusdiadi Masang. Mereka semua alumni STID Mohammad Natsir. Plus Mas Angga, Direktur Laznas Dewan Da'wah NTT. Kami dibawa ke markas Dewan Da'wah NTT di Jalan Lapangan Tembak, Nunbaun Sabu Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di markas ini berkantor Dewan Da'wah, Laznas dan ADI NTT. Kami dipersilahkan untuk mandi dan istirahat sejenak. Pukul 10.00 WITA kami kemudian diantar ke pelabuhan Bolok Kupang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Kapal Ferry. Rusdiadi Masang, alumni STID Mohammad Natsir yang sedang bertugas sebagai Musyrif ADI Kupang, ditugaskan ketua Dewan Da'wah NTT untuk membersamai kami. Berarti tim kami sekarang berjumlah empat orang.

Sabtu, 30 April 2022

Do'a Akhir Ramadhan untuk Masa Depan Perjuangan



اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم


Ya Allah di malam terakhir bulan Ramadhan tahun 1443 H ini, kami bermunajat kepadaMu untuk kebaikan dunia dan akhirat kami, untuk kebaikan diri dan keluarga kami,  untuk kebaikan guru-guru, kawan-kawan seperjuangan, dan kader-kader kami, untuk kebaikan anak-cucu dan masa depan ummat ini....


Ya Allah mudahkan urusan dunia dan akhirat kami. Kumpulkanlah kami di dunia dengan ikatan iman kepadaMu dan kumpulkanlah kami di akhirat, dibawah naungan ridhoMu, di dalam surgaMu yang penuh dengan kenikmatan...


Ya Allah terimalah segala amal ibadah yang telah kami tunaikan selama Ramadhan ini. Anugerahkankah ampunanMu bagi kami. Berikanlah hidayahMu agar kami dapat Istiqomah dalam ketaatan kepada Mu selepas Ramadhan ini.


Ya Allah mudahkanlah kami untuk mendidik diri, istri dan anak-anak kami agar Istiqomah dalam ketaatan kepada Mu dan istiqamah di jalan da'wah ini. Jadikanlah keluarga kami menjadi keluarga da'wah yang dapat menopang kewajiban da'wah kami. Berikanlah kesabaran kepada keluarga kami dalam menghadapi segala cobaan yang akan kami hadapi di jalan da'wah ini. Bukakanlah pintu-pintu keberkahan untuk keluarga kami. Satukanlah keluarga kami, di dunia dan akhirat, senantiasa dalam ridhoMu.


Ya Allah mudahkanlah kami, guru-guru kami, kawan-kawan seperjuangan kami dan kader-kader kami dalam mengemban amanah da'wah ini. Tancapkan keimanan dan keikhlasan ke dalam hati-hati kami pada setiap langkah-langkah da'wah kami. Satukanlah senantiasa hati-hati. Jauhkan kami dari perselisihan dan perpecahan. Lindungi kami dari godaan dunia yang dapat merusak amal ibadah dan amal da'wah kami. Berikan kesabaran kepada kami dalam menghadapi cobaan di jalan da'wah ini. Anugerahkanlah jalan-jalan keluar dari setiap kesulitan yang kami hadapi. Limpahkan pahala atas peluh dan darah yang telah kami keluarkan di jalan perjuangan da'wah ini.


Ya Allah jadikanlah anak-cucu kami menjadi generasi Islam yang beriman, betaqwa dan Istiqomah dalam berjuang melanjutkan jalan risalah dan da'wah ini. Jadikanlah mereka generasi yang mampu menjaga agama dan ummat ini, meninggikan kehormatan agama dan ummat ini, memenangkan agama dan ummat ini.


وصلي الله علي نبينا محمد والحمد لله رب العالمين....


Bumi Allah

Akhir Ramadhan 1443 H

Jumat, 01 April 2022

Hikmah Syari'at Shaum Ramadhan



Salah satu dari nama Allah Ta'ala adalah Al-Hakim ( الحكيم) yang memiliki arti Maha Bijaksana. Dengan demikian Allah Ta'ala adalah Dzat yang memiliki sifat bijaksana (الحكمة). Bijaksana artinya profesional atau melakukan yang terbaik dalam satu urusan dan menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya.
Dengan pengertian di atas, maka kita meyakini bahwa setiap ciptaan Allah dan setiap syariat Allah pasti mengandung hikmah yang luas. Hanya saja tidak semua orang dapat memahami hikmah-hikmah tersebut. Hanya orang yang Allah berikan ilmu dan petunjuk saja yang dapat memahaminya.


Demikian pula dengan ibadah shaum, khususnya shaum di bulan Ramadhan. Ia memiliki hikmah yang amat banyak. Diantara hikmah itu adalah:

1. Mendidik Jiwa agar dapat Menggapai Taqwa
Ini adalah hikmah terbesar dari ibadah shaum, yakni agar orang yang melaksanakan shaum dapat menggapai derajat taqwa. Sebagaimana yang dengan jelas difirmankan Allah Ta'ala:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Ibadah shaum dapat mendidik Jiwa untuk menggapai derajat taqwa karena dalam ibadah shaum terdapat unsur-unsur ketaqwaan. Para ulama menjelaskan bahwa makna taqwa adalah:
والتقوى هي فعل ما أمر الله تعالى به ، وترك ما نهى عنه .
"Taqwa adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang."

Demikian pula dalam shaum, terutama di bulan Ramadhan, banyak terdapat perintah untuk melaksanakan ketaatan, seperti perintah shalat, infaq, zakat, membaca Al-Qur'an, berbuat baik, berdzikir dan perintah lainnya. Juga banyak larangan, seperti larangan makan, minum dan berjima di siang hari, larangan berkata kotor, larangan berbuat jahat, larangan  ghibah, larangan mengadu domba, larangan mengumbar hawa nafsu dan larangan-larangan lainnya.
Maka orang yang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan, seharusnya memahami hikmah ini, bahwa ibadah shaum yang sedang ia jalankan pada hakikatnya mendidik dirinya untuk membiasakan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan larangan Allah Ta'ala. Dengan kata lain, di bulan ramadhan orang beriman dibiasakan untuk melaksanakan ketaqwaan.
Karena taqwa ini adalah hikmah terbesar dari ibadah shaum, maka hikmah lainnya adalah hikmah yang menopang hikmah taqwa ini.

2. Mendidik Jiwa untuk Bertaubat
Dalam satu haditsnya Rasulullah menjelaskan bahwa ketika seorang manusia melakukan dosa maka akan muncul satu titik hitam dalam hatinya. Semakin banyak berbuat dosa, semakin banyak pula titik hitam muncul di dalam hatinya. Rasulullah bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ" ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14]
"Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan satu dosa maka akan muncul satu titik hitam dalam hatinya. Apabila ia sadar, meminta ampun dan bertaubat maka bersihlah hatinya. Namun apabila ia mengulangi perbuatan dosanya, bertambahlah titik hitam dalam hatinya, sampai harinya diselubungi tirai hitam. Itulah yang dimaksud Raan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."

Sementara di bulan Ramadhan, Allah Ta'ala banyak memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan membersihkan hati kita. Bahkan dalam satu haditsnya Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bertemu dengan ramadhan namun ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia sesungguhnya adalah orang yang merugi. Rasulullah bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
"... Celakalah seseorang yang diberikan kesempatan untuk bertemu Ramdhan, kemudian Ramadhan berlalu sementara ia tidak mendapatkan ampunan..."

Diantara kesempatan yang Allah berikan adalah ibadah shaum dan ibadah qiyam di bulan Ramadhan yang pahalanya adalah diampuni segala dosa yang telah dilakukannya.
Demikian juga setiap malam di bulan Ramadhan Allah Ta'ala membebaskan hambaNya dari siksa neraka.
Dengan dibukanya banyak kesempatan untuk bertaubat itu, seorang beriman sedang dididik jiwanya untuk terbiasa bertaubat selama hidupnya.

3. Mendidik Jiwa untuk Memaafkan dan Menjaga Orang Lain dari Kejahatannya

Salah satu hikmah shaum Ramadhan adalah mendidik jiwa untuk menjaga diri dari berbuat jahat kepada orang lain. Di bulan Ramadhan, ketika melaksanakan ibadah shaum, banyak larangan yang Allah berikan. Larangan berkata kotor, larangan berbuat jahat, larangan bermusuhan, larangan menyakiti orang lain dan larangan lainnya. Ini adalah pola pendidikan agar jiwa terbiasa menahan diri dari menyakiti orang lain. Kebiasaan ini sesungguhnya adalah kebiasaan orang Islam, karena orang Islam lainnya terbebas dari kejahatan lisan dan tangannya. Sebagaimana sabda Rasulullah:
المُسلِمُ مَن سَلِمَ المسلمون مِن لسانه ويده
"Orang muslim itu adalah orang yang orang muslim lainnya selamat dari kejahatan lisan dan tangannya."

Ibadah shaum Ramadhan juga mendidik Jiwa agar mudah memaafkan orang lain. Karena itu, ketika Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang do'a apa yang sebaiknya dibaca di akhir Ramadhan, Rasulullah mengajarkan do'a berikut:
اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, menyukai Pemaafan, maka maafkanlah aku."

Dari hadits di atas, Ibnu Rajab menjelaskan bahwa salah satu nama dan sifat Allah itu adalah Al-'Afwu, Maha Memaafkan. Maka Allah menyukai memberikan maaf kepada hamba-Nya yang berbuat dosa. Dan Allah juga menyukai hambaNya yang memaafkan kesalahan saudaranya.
Maka ketika kita ingin mendapatkan pemaafan dari Allah Ta'ala atas dosa dan kesalahan yang sudah kita lakukan, maka sudah selayaknya kita pun memaafkan kesalahan saudara kita.

4. Mendidik Jiwa untuk Bersyukur

Ketika seorang hamba dilarang untuk makan dan minum di siang hari, maka ia akan mengalami haus dan lapar yang sangat. Maka ketika datang waktu berbuka, ia akan merasakan nikmat yang amat besar, yakni dibolehkannya makan dan minum saat kondisinya sedang lapar dan haus. Ketika itu jiwa akan sangat bersyukur atas nikmat makan dan minum yang Allah berikan . Sebagaimana yang digambarkan Rasulullah:
للصائم فرحتان: فرحة حين يفطر، وفرحة حين يلقى ربه.
"Bagi orang yang shaum terdapat dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabnya."

Padahal di hari-hari biasa, Allah juga memberikan kepadanya nikmat makan dan minum. Hanya saja karena ia makan dan minum dalam kondisi yang tidak terlalu lapar dan haus sebagaimana kondisi ketika ia shaum, maka nikmat makan dan minum itu dianggap biasa saja. Shaum mengingatkan hamba untuk senantiasa mensyukuri nikmat makan dan minum yang Allah berikan.

5. Mendidik Jiwa untuk Menjaga Kesehatan Raga

Salah satu hikmah shaum adalah membiaskan jiwa menjaga raga dengan makan, minum dan tidur secara teratur dan tidak berlebihan.
Jika di hari biasa, bisa jadi kita terbiasa banyak makan dan minum tanpa ada aturan yang tetap, maka saat shaum kita dilatih untuk makan dan minum secara teratur. Demikian juga dengan tidur. Bisa jadi di luar Ramadhan ada sebagian kita yang sulit untuk bangun sebelum subuh. Namun di bulan Ramadhan kita dididik untuk bangun tidur sebelum waktu subuh.
Dua hal ini, selain merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah, juga memiliki efek positif terhadap raga kita. Tak heran jika penemuan ilmiah mengatakan bahwa shaum memiliki efek positif terhadap kesehatan. Maka kebiasaan baik yang berdampak positif terhadap kesehatan raga ini adalah juga menjadi salah satu hikmah shaum.
Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak hanya memperhatikan aspek Ruhani saja, tapi Islam juga sangat memperhatikan aspek jasmani.

Semoga kita semua dapat memahami dengan baik hikmah-hikmah dari ibadah shaum Ramadhan ini. Sehingga ketika kita melaksanakan ibadah shaum Ramadhan ini kita akan melaksanakannya dengan penuh kesungguhan karena kita memahami hikmah besar yang ada di balik ibadah shaum Ramadhan tersebut.

Senin, 14 Maret 2022

Tiga Catatan dari Buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak

 


Sore ini saya diminta oleh Ustadz Muhammad Hanif, salah seorang peserta Kaderisasi Ulama Dewan Da'wah, untuk memberikan keynote speech dalam acara Literasi Peradaban Islam dengan membedah buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak. Buku ini adalah hasil wawancara lima generasi muda saat itu, tahun 1986-1987, kepada Mohammad Natsir.


Maka dalam keynote speech saya sampaikan ada tiga catatan penting yang dapat diambil dari buku ini. Ketiga catatan itu adalah:


Pertama, proses penyusunan buku ini mencerminkan perhatian besar Pak Natsir kepada generasi muda. 

Pak Natsir lahir tahun 1908, sementara kelima pewawancara beliau lahir antara tahun 1938-1948. Endang S. Anshori (1938), Kuntowijoyo dan Yahya Muhaimin (1943), Amien Rais (1944), A Watik Pratiknya (1948).

Artinya perbedaan usia Pak Natsir dengan para pewawancaranya itu antara 30-40 tahun. Seusia anak-anak kandung Pak Natsir.

Namun demikian Pak Natsir bersedia menyediakan waktunya berkali-kali untuk diwawancarai mereka. Bahkan putri Pak Natsir, Ibu Aisjah Natsir, pernah menjelaskan bahwa satu kali ketika Pak Natsir sedang diwawancarai di rumah beliau, proses wawancara selalu terputus karena datangnya tamu lain. Maka kemudian tempat wawancara Pak Natsir pindahkan ke satu rumah makan agar bisa berjalan lancar.

Perhatian Pak Natsir kepada para pewawancaranya, generasi muda itu, kemudian terbukti membuahkan hasil yang luar biasa. Dimana kelima anak muda itu di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh umat Islam yang melanjutkan perjuangan Pak Natsir. Tentu sesuai dengan posisi dan kecenderungannya masing-masing.


Kedua, buku ini memperlihatkan spektrum pemikiran Pak Natsir yang sangat luas. Dari mulai pemikiran da'wah, pendidikan, politik, sosial, bahkan sampai kajian dunia internasional.

Artinya, seorang ulama, tidak seharusnya membatasi keilmuannya hanya pada satu atau dua area saja. Atau apa yang hari ini diistilahkan dengan linieritas keilmuan. Namun seorang ulama harus terus mengembangkan ilmunya semaksimal yang dia mampu.

Hal ini juga menggambarkan kuatnya kemampuan belajar otodidak Pak Natsir. Satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang da'i dan ulama.


Ketiga, isi buku ini adalah warisan yang sangat berharga dari seorang Mohammad Natsir. Maka tugas para pelanjutnya, tugas para kadernya, adalah mengkaji buku ini, kemudian memformulasikan ulang sesuai dengan kondisi hari ini. Sehingga formulasi itu dapat lebih mudah diterapkan atau diimplementasikan dalam perjuangan da'wah hari ini.

Sehingga warisan Pak Natsir ini tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tapi juga menjadi panduan yang dapat kita gunakan dalam perjuangan da'wah kita hari ini. 


Demikian tiga catatan dari buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak ini.

(Dwi Budiman Assiroji/ Ketua STID Mohammad Natsir)

Ketua STID Mohammad Natsir Ikuti Madani SEA Leadership Program 2025 di Malaysia

   Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, mengikuti program   Madani South East Asia Leadership Program   (MSeaLP2025) di Kua...